Call Us: +62-853-5848-1122
Follow Us:

Artikel

Antara riba karena gaya hidup atau riba karena demi bertahan hidup

Antara riba karena gaya hidup atau riba karena demi bertahan hidup

Kita harus banyak mengulang-ulang tentang riba ini. Menyiarkannya jahatnya riba ini. Menyampaikan kepada umat tentang riba yang menghacurkan. Tidak hanya pribadi tapi juga keluarga bahkan Negara.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

(QS. Al Baqarah [2]: 275)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Maksudnya, tidaklah mereka berdiri (dibangkitkan) dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan dan dikuasai setan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/708) [175] Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan

Ibnu Abbas mengatakan, “Orang yang memakan riba itu akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila tercekik”. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim [Shahih Tafsir Ibnu Katsir karya Musthofa al Adawi 1/306]

Begitulah pemakan riba digambarkan. Itulah yang akan ia alami diakhirat kelak jika tak bertobat. Lalu apa penyebab orang terjerembab kepada riba? Beberapa diantaranya adalah pola hidup konsumtif yang tinggi. Saat ini kita dapat menyaksikan atau bertemu para pengusaha atau kalangan menengah yang terjebak riba, maka kebanyakan dari mereka disebabkan oleh tingginya gaya hidup. Selain kurangnya ilmu diin tentunya.

Namun yang menyakitkan kemudian adalah, kalangan ini tidak lebih banyak atau jika dibandingkan dengan mereka yang terjerat riba demi untuk bertahan hidup. Benar bahwa tidak ada alasan dalam riba. riba ya tetap riba. Mau gaya-gayaan, bahkan untuk makan. Riba tetaplah haram dan terlarang.

saya bicara keumuman, bahwa mereka yang terjerat riba adalah yang miskin dan minim ilmu agama. mereka meminjam bukan buat kredit motor, atau kredit mobil apalagi ambil KPR di bank. mereka menerima pinjaman rentenir keliling adalah untuk makan hari itu. Nilainya tidak besar. 300 -500 ribu. paling besar 1 juta. Itupun biasanya untuk modal usaha jualan gorengan pagi atau jualan sayur keliling.

Jika terlambat sehari, ibu-ibu itu akan dibentak-bentak dengan kata-kata yang lain kotor yang pernah ada dalam kosakata bahasa Indonesia. terkadang bahasa daerah si rentenir. sambil menggendong bayi, si ibu hanya bisa menangis. Saya tidak sedang menulis cerpen. ini nyata. apa solusinya? sedekah. bagaimana caranya?

Saya pernah menyalurkan sedekah dengan cara memberikan pinjaman kepada para pedagang sayur, gorengan, dan buah keliling. sedekah dari teman-teman saya, saya kumpulkan lalu kemudian saya berikan ke mereka dengan akad pinjaman, maksimal 1 juta per orang. mereka kembalikan sesuai kemampuan, tanpa penambahan, tanpa agunan. dan alhamdulillah, dari 5 hanya 1 yang mandek. it’s work, bro!

Polanya sama sebagaimana para rentenir itu hadir, mereka bersyirkah mengumpulkan uang lalu membagi-bagikannya dengan akad riba yang mencekik. mereka kaya raya dan hidup enak dengan riba. maka kita lawan dengan pola itu, kumpulkan sedekah. lalu berikan pinjaman kepada ibu-ibu (bapak-bapak sudah teruji ‘kurang’ mampu mengelola uang pinjaman) dan pastikan mereka punya usaha walau hanya jual gorengan atau nasi uduk di pagi hari. tahap satu pinjaman berjalan, evaluasi. lakukan pembinaan berkelompok dan beri pemahaman agama secara rutin. bisa sebulan sekali.


Tags: Riba Hutang Inspirasi

Share This Post:

Adhit Tobing

Founder dari Syirkahpreneur dan juga seorang CEO dari Rumah Syariah Indonesia.


Related Posts

7 Cara Lepas dari RIBA (bag. 1)

Riba itu menjijikkan. Bagaimana tidak, dosa terkecilnya saja seperti berzina dengan ibu kandung. ... Read more

Bincang Kopi

Serunya belajar membuat kopi dan mengenal kopi lebih dalam bersama Pak Eko Murdiyanto... Read more

7 Cara Lepas dari RIBA (bag. 2)

Dari ribuan peristiwa yang menyesakkan. Yang hancur karena RIBA.... Read more


Komentar

Search

Subscribe

Dapatkan informasi mengenai artikel terbaru dari syirkahpreneur di email anda.

Kami berjanji akan mengirimkan email yang dapat di pertanggungjawabkan.

Contact Us
  • Address: Jl. Terusan Ketapang II, Pekayon Jaya,
    Bekasi Sel., Kota Bks, Jawa Barat 17148
  • Phone: (021) 82738777
  • Email: info@syirkahpreneur.com
  • Monday - Friday: 9:00 am - 10:00 pm
    Saturday - Sunday: Closed
Say Hey
© 2018. «Syirkahpreneur». All right reserved.